Home > Uncategorized > FONDASI

FONDASI


 

THE POWER OF SYAHADATAIN

Familiar bagi  kita tentang kisah – kisah sahabat Rasulullah dalam mempertahankan dan  menjayakan Islam. Subhanallah, mereka harus menghadapi rintangan dengan segala konsekuensinya, harta dan jiwa dipertaruhkan hanya untuk Allah semata. Hingga tidak mengherankan jika sosok mereka menjadi inspirasi para pejuang Islam saat ini dalam mempertahankan tegaknya agama Allah di bumi. Di masa itu sahabat Bilal bin Rabah seorang budak hitam  rela diletakkan di hamparan padang pasir yang panas tanpa sehelai baju dengan tubuh ditindih batu besar, disiksa, dicambuk tetapi Masha Allah beliau tetap bersikukuh dengan mengatakan ahad, ahad sebagai pengakuan syahadat dia kepada Allah, Tuhan Yang Esa.

Kisah Mush’ab bin Umair yang rela meninggalkan kemewahan dan segala kenyaman hidup sejak ia memutuskan untuk menjadi muslim. Hingga, karena kezuhudannya pada saat meninggal kain kafanpun tidak cukup menutup seluruh badannya. Maupun kisah keberanian para panglima perang, Hamzah bin Abdul Muthalib, Khalid bin Walid, Thariq bin Ziyad, Shalahudin Al Ayubi hingga Muhammad Al Fatih yang berhasil merobohkan benteng Konstantinopel yang konon sangat kuat, namun karena panglima dan tentara perang yang tangguh, memiliki semangat dan optimisme yang tinggi untuk menegakkan kalimat Allah pada akhirnya mereka berhasil membawa kemenangan. Apa yang telah mereka lakukan itu semua merupakan bentuk refleksi dan  implementasi dari syahadatain yang telah mereka ucapkan sejak  memutuskan masuk Islam. Syahadat telah melahirkan semangat yang sangat luar biasa, the power of  syahadat is never ending energy.

Urgensi Syahadat

Syahadat merupakan kalimat yang singkat, selalu dibaca berulang kali setiap hari dan memiliki makna yang luar biasa. Syahadat merupakan rukun Islam pertama dari lima rukunnya. Bagi seorang muslim, syahadat memiliki arti yang sangat penting.Pertama, kalimat syahadatain adalah pintu masuk Islam  sebagaimana tercantum dalam ayat Alqur’an 47: 19, 37: 35, 3:18, 7:172, 25:23, 39:64-65. Dengan membaca syahadatain maka seseorang telah diakui sebagai orang Islam yang memiliki hak dan kewajiban sama dengan muslim lain. Kedua,  syahadatain merupakan intisari ajaran Islam yang dilandasi dalam Alqur’an 2:21, 51:56, 21:25, 33:21, 3:31, 6:162, 3:19, 3:85, 45:18,6:153. Dengan syahadatain, syahadat tauhid maka seorang muslim mengakui bahwa segala sesuatu berasal dari Allah yaitu Alqur’an dan syahadat Rasul, maka mereka mengakui semua yang dibawa nabi Muhammad saw yaitu hadits. Sehingga konsekuensi bagi seorang yang bersyahadat adalah mengikuti Alqur’an dan sunnah. Ketiga, syahadatain adalah titik tolak perubahan sebagaimana termaktub dalam Alqur’an  6:122, 33:23, 37:35-37, 85:6-10, 18:2, 8:30.

Perubahan semua aspek bermula dari syahadatain, yaitu perubahan dari jahiliyah menuju Islam, dari ketebelakangan menuju kemajuan dan seterusnya. Keempat, hakekat dakwah Rasul maksudnya adalah bahwa syahadatain merupakan konsepsi dasar yang didakwahkan seluruh Rasul sebagaimana tertulis dalam Alqur’an 60:4, 18:110. Kelima, keutamaan yang besar, sebagaimana dalam hadist “Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallah, ia masuk surga”.

Makna Asyhadu

Dalam bahasa Arab, makna syahadat adalah ikrar (  3:18, 7:172, 3:81 ), sumpah (  63:1-2, 4:138-145  ) dan perjanjian ( 5:7, 2:285, 2:93 ). Ikrar, sumpah dan perjanjian hanya akan terucap dari orang yang benar – benar telah mengetahui dan yakin dengan apa yang diucapkan ( al iman ). Sehingga keyakinan itu akan tercermin dengan ucapan lisan, pembenaran dalam hati dan pembuktian dengan perbuatan. Sedangkan konsistensi dari iman dan ketaatan akan memunculkan keberanian, ketenangan dan optimisme.

Sehingga seorang muslim akan terbebas dari rasa takut, resah dan cemas dalam menjalani kehidupannya dan itulah sebenarnyavkebahagiaan yang sejati ( 3:185 ). Adapun hal hal yang  membatalkan syahadat adalah syirik ( menyekutukan Allah ), ilhad ( menyimpang dari kebenaran ) sikap yang menafikan sifat-sifat, nama-nama, dan perbuatan Allah dan nifaq ( berwajah Islam, tetapi hatinya kafir ).

Reality Umat Islam Saat Ini

Saat ini, persoalan yang muncul adalah mengapa umat Islam selalu tertinggal dari umat lainnya? Di hampir semua bidang kehidupan. Sebenarnya, akar semua masalah dapat dirunut dan berhulu pada pemahaman dan implementasi syahadat yang kurang benar atau tidak sempurna. Umat Islam masih terjajah, tertindas, tindakan anarkis merajalela, marak pornografi, free sex, penggunaan obat-obatan terlarang, tuduhan terorisme, dan masalah kemiskinan. Semua masalah tersebut menggambarkan begitu lemahnya kondisi umat Islam saat ini.

Bidang Pendidikan, Apa yang Harus Dilakukan

Sebuah survey menunjukkan bahwa sumber daya manusia di negara-negara muslim saat ini masih sangat tertinggal dibanding umat lainnya.Hal ini diukur dari perbandingan antara  jumlah pakar dalam setiap satu juta penduduk.  Israel yang notabene beragama Yahudi mempunyai 16000 pakar, Jepang yang mayoritas penduduk beragama Shinto dan Budha memiliki 6500 pakar, Rusia yang atheis memiliki 5000 pakar, Belanda yang beragama Kristen memiliki 4500 pakar, United Kingdom yang beragama Katolik meiliki 3200pakar, sedangkan negara-negara muslim seperti Mesir, Pakistan, Indonesia, Iran dan Nigeria masih memiliki jumlah pakar yang kurang dari 500.

Lemahnya SDM ini salah satu penyebabnya disinyalir karena cara pandang dan pemahaman terhadap Islam yang tidak kaffah. Berpikir dikotomis atau sekular. Islam hanya dipahami dari aspek ritual belaka sehingga menjadikan Islam terkesan sempit, bahkan hanya memuat ajaran yang sekedar menyiapkan kehidupan akhirat saja dan tidak menjamah pada persoalan keduniaan. Dalam dunia pendidikan, indikasinya dapat terlihat dalam  perguruan tinggi Islam versus perguruan tinggi umum, mata pelajaran agama di sekolah versus mata pelajaran umum seperti biologi, fisika, kimia, berhitung dan lain-lain. Hal ini mengakibatkan persepsi yang salah dalam masyarakat seperti, cara berpikir yang dikotomis yang  berakibat mempersempit lingkup ajaran Islam itu sendiri. Islam hanya akan berada di masjid-masjid, di tempat-tempat kegiatan spiritual, di seputar upacara kelahiran, pernikahan dan kematian. Kemudian tokoh Islam dipersonifikasi sekedar sebagai ahli doa, bukan penemu salah satu bidang ilmu pengetahuan dari kegiatan risetnya, bukan pengusaha besar, bukan orang yang berada di kancah politik yang sesungguhnya sehari-hari memikirkan dan memperjuangkan umat dan kemanusiaan.  Selain itu, dakwah yang belum merata, juga termasuk problem utama umat Islam saat ini.

Padahal, jika kita menelusuri sejarah keemasan Islam, pada waktu itu Islam berhasil melahirkan banyak ilmuwan-ilmuwan sekaliber internasional yang pakar di berbagai bidang: astronomi, kedokteran, geologi dan ilmu-ilmu lainnya. Seperti Umar Khayyam (w. 1123), Al Battani (w. 929), Al Tusi (w. 1274), Tsabit bin Qurrah (w. 901), Abu Bakar Ar Razi (w.935) Al Majriti (w. 1007), Ibnu Nafis (w.1288), Az Zahra (w. 939), Al Ibadi (w. 873) dan Ibnu Majid (abad 15).

Dalam hal ini, Profesor Abdus Salam memberikan peringatan kepada umat Islam yang concern terhadap dunia keilmuwan,  hal – hal berikut harus bisa dihindari. Menurut beliau, saat ini umat Islam tidak mempunyai komitmen terhadap sains, baik sains terapan maupun sains murni, tidak memiliki hasrat yang kuat untuk mengusahakan tercapainya kemandirian sains dan teknologi (self reliance) , tidak membangunkan kerangka institutional dan legal yang cukup untuk mendukung perkembangan sains dan menerapkan cara yang tidak tepat dalam menjalankan manajemen kegiatan di bidang sains dan teknologi.

Ala kulli hal,  hal penting yang harus dilakukan saat ini adalah senantiasa meluruskan motivasi kita dalam mencari ilmu, memperbaiki sistem pendidikan dan pengajaran yang salah, menggunakan kaedah atau teknik yang tepat dan selalu mengaitkan ilmu yang dipelajari dengan Allah. Harapannya semoga apa yang dilakukan tersebut, menjadi salah satu perwujudan syahadat kita dan menjadi  bagian dari solusi dalam menyelesaikan salah satu problema yang dihadapi umat Islam saat ini. Wallahu’alam.

oleh: Dwi ariyanto

  • Resensi dari materi tarbiyah Syarah Rasmul Bayan dan taskif pada hari Sabtu 24 April 2010 tentang  “Urgensi Syahadatain dalam Menyelesaikan Permasalahan Umat“ oleh ustaz M. Arif Budiman
Ayo Menulis

Ada dikatakan demikian: “Jika Anda dapat menciptakan kebiasaan menulis, Anda akan memiliki fondasi yang kuat sebagai seorang penulis.”

Jika Anda kesulitan mengusahakan waktu yang cukup untuk menulis, atau terus menunda-nundanya, atau nampaknya tidak pernah mulai menulis meskipun Anda sudah merencanakannya, Anda harus berusaha menciptakan kebiasaan menulis.

Pikirkanlah hal ini sejenak — jika Anda dapat menulis dengan konsisten selama satu jam (atau dua jam) dalam sehari:

Anda akan banyak menulis dalam jangka waktu sebulan, atau setahun. Jumlah tulisan Anda akan sangat banyak.

Anda akan memenuhi tenggat waktu menulis, karena Anda tidak menunda-nunda untuk menulis.

Kualitas tulisan Anda akan meningkat, karena Anda banyak berlatih menulis.

Anda akan merasa bahwa tulisan Anda bagus, dan karenanya Anda akan terus termotivasi untuk menulis.

Anda akan mengatasi masalah perang dan kelaparan dengan kejeniusan tulisan Anda.

Poin yang terakhir mungkin agak berlebihan, namun secara pribadi, saya mengalami empat poin pertama. Menulis sudah menjadi kebiasaan dan hasrat saya, dan saya sudah melakukannya cukup lama. Meski tidak semua kata yang saya tulis itu brilian dan memesona, saya dapat dengan bangga mengatakan bahwa saya sudah banyak menulis untuk banyak publikasi. Pada tahun terakhir saja, sebagai “blogger”, penulis blog lepas, dan komentator untuk banyak blog, saya barangkali sudah menulis lebih dari 1.000 postingan tulisan. Itu belum termasuk tulisan yang saya tulis di pekerjaan dan di luar dunia blog. Kebiasaan saya cukup sederhana: saya memiliki dua atau tiga hal yang benar-benar ingin saya tulis setiap hari, dan saya menulisnya sedini mungkin setiap hari. Biasanya 2 hingga 4 jam setiap hari (kadang lebih). Menulis adalah prioritas saya, dan dalam banyak hal, menulis banyak memberi saya manfaat.

Para penulis adalah para penunda-nunda yang tidak populer. Tapi kita tidak perlu menjadi seperti itu jika kita menciptakan kebiasaan menulis. Berikut adalah langkah-langkah yang cocok untuk saya; langkah-langkah yang juga saya gunakan untuk menciptakan kebiasaan-kebiasaan lain:

  1. Tulis kebiasaan menulis Anda.

    Jika Anda tidak berkomitmen untuk menuliskan kebiasaan menulis, Anda tidak benar-benar berkomitmen untuk membentuk kebiasaan tersebut. Jika Anda ingin membentuk suatu kebiasaan menulis, Anda harus benar-benar berkomitmen untuk melakukannya. Bukan kalimat “akan saya usahakan”, namun “saya benar-benar akan menulis”. Dan Anda harus menuliskan komitmen tersebut lalu memasangnya di tempat-tempat yang dapat Anda lihat dengan mudah. Secara spesifik, tulis kebiasaan seperti apa yang akan Anda lakukan (dalam hal ini menulis). Kapan, di mana, dan untuk berapa lama Anda akan melakukannya? Tuliskanlah semua itu.

  2. Menulislah setiap hari pada waktu yang sama, dengan pemicu.

    Akan baik jika Anda memiliki waktu tertentu setiap hari untuk mulai menulis. Saya lebih suka di pagi hari, namun bisa juga saat makan siang, atau sesaat sebelum tidur. Pastikan bahwa waktu itu adalah waktu yang tidak akan dijejali oleh aktivitas lain — jika Anda sering mendapat panggilan rapat setiap sore, misalnya, jangan menetapkan waktu itu sebagai waktu menulis Anda (kecuali Anda memiliki otoritas untuk tidak mengikuti rapat itu).

    Yang sama pentingnya dengan memiliki waktu khusus untuk menulis adalah memiliki pemicu. Apakah pemicu itu? Ini adalah suatu peristiwa yang akan mendorong Anda untuk melakukan kebiasaan itu. Misalnya, ketika dulu saya merokok, saya memiliki beberapa pemicu: saya akan merokok saat bangun tidur, stres, setelah rapat, dan sebagainya. Ketika saya ingin mengubah kebiasaan tersebut, saya harus mengubah beberapa pemicu itu, sehingga saya memiliki kebiasaan yang baru untuk menggantikan kebiasaan merokok. Ketika bangun tidur, misalnya, saya akan berolahraga. Untuk menciptakan kebiasaan baru, kita harus berusaha keras menghubungkan kebiasaan tersebut dengan pemicu. Contohnya, katakan saja Anda ingin menulis pada pagi hari — Anda akan bangun dari tempat tidur, mandi, membuat kopi, dan kemudian mulai menulis. Jadi, membuat kopi adalah pemicu untuk Anda menulis, dan mandi adalah pemicu untuk Anda membuat kopi, dan bangun dari tempat tidur adalah pemicu untuk Anda mandi. Dan karena Anda pasti akan bangun dari tempat tidur setiap hari, jadi Anda tidak akan memiliki masalah menerapkan hal ini. Pilih sebuah pemicu yang Anda tahu akan Anda lakukan setiap hari, dan kemudian menulislah.

  3. Berkomitmenlah kepada orang lain.

    Seperti yang telah dituliskan di atas, adalah penting untuk memiliki komitmen yang kuat guna membentuk kebiasaan menulis. Untuk itu, akan membantu jika komitmen itu sifatnya tidak pribadi. Umumkanlah komitmen Anda kepada banyak orang. Beritahu keluarga, teman-teman, rekan kerja Anda, tulis dalam situs blog Anda, kirimkan ke sebuah forum diskusi online, dan sebagainya. Katakan dengan jelas apa yang akan Anda lakukan, dan berjanjilah untuk melaporkan kepada mereka hal-hal yang telah Anda lakukan (lihat butir nomor 6 di bawah). Hal ini akan memotivasi Anda untuk tetap melakukan kebiasaan menulis.

  4. Fokuslah selama 1 bulan.

    Salah satu kunci untuk membentuk sebuah kebiasaan baru adalah fokus. Jika Anda benar-benar fokus untuk membentuk kebiasaan menulis, Anda akan sukses (terutama jika Anda mengombinasikannya dengan beberapa tips lain dalam artikel ini). Jika Anda mencoba untuk menciptakan banyak kebiasaan baru dalam satu waktu sekaligus, fokus Anda akan tersebar. Jangan terjerat pada jebakan yang lazim ada namun menggoda ini. Kerahkan seluruh fokus dan energi Anda untuk membentuk kebiasaan baru dalam menulis.

  5. Temukan motivasi Anda.

    Apa alasan Anda melakukan kebiasan menulis? Apa yang memotivasi Anda untuk duduk dan menulis? Apa yang dapat membuat Anda tetap termotivasi ketika Anda sedang tidak ingin menulis? Mengetahui apa yang menjadi motivasi Anda itu penting — dan sangat baik jika Anda menuliskannya.

  6. Catat dan bertanggungjawablah.

    Sangat penting mencatat kebiasaan baru Anda. Hal termudah yang dapat Anda lakukan adalah dengan memberikan tanda “X” di kalender Anda setiap kali Anda menulis. Atau Anda bisa juga menyiapkan sebuah lembar kerja untuk mencatat waktu dan tanggal, dengan catatan kecil ketika Anda menulis. Ini dapat menjadi alat untuk membantu Anda melacak apakah tujuan Anda sudah tercapai atau belum. Atau Anda bisa juga membuat catatan dalam blog pribadi; dengan menuliskan tulisan singkat dalam blog Anda setiap kali Anda selesai menulis. Forum diskusi online merupakan cara yang baik pula untuk mencatat apa yang sudah Anda lakukan. Cara apapun yang Anda pakai, lakukanlah itu dengan konsisten dan segera lakukan pencatatan setiap kali Anda selesai menulis. Bagikanlah catatan Anda tersebut kepada orang lain sebagai bentuk pertanggungjawaban Anda kepada orang lain.

  7. Tentukan penghargaan diri.

    Penghargaan adalah motivator yang luar biasa. Sering-seringlah memberi penghargaan kepada diri sendiri ketika Anda baru mulai berusaha membentuk kebiasaan menulis: berikan satu hadiah kecil untuk diri sendiri pada hari pertama Anda menulis, kemudian pada hari yang kedua dan ketiga. Setelah itu, berikan hadiah kepada diri Anda setelah menulis secara rutin selama 1 minggu. Lalu kurangi lagi, Anda akan memberikan hadiah pada diri Anda setelah menulis secara rutin selama 1 bulan. Buat daftar penghargaan sebelum Anda mulai menulis, jadi Anda dapat melihat hadiah apa saja yang dapat Anda terima jika Anda mulai menulis.

  8. Disiplin.

    Semakin konsisten Anda menulis, semakin kuat kebiasaan itu jadinya. Pastikan kebiasaan Anda terhubung kuat dengan pemicu Anda, sehingga setiap kali pemicunya terjadi, Anda akan melakukan kebiasaan Anda. Itulah yang membentuk suatu kebiasaan. Jika pemicunya terjadi, dan kadang Anda tidak melakukan kebiasaan Anda, maka Anda tidak benar-benar membentuk sebuah kebiasaan. Jadi, daripada Anda menyalahkan diri kelak, lebih baik Anda benar-benar disiplin. Karena sekali Anda tidak melakukan kebiasaan itu, kemungkinan Anda akan melakukannya lagi lain waktu. Jika Anda merasa sedang tidak ingin menulis hari ini, katakan pada diri Anda dengan tegas: “Disiplin!”

    Apa yang akan terjadi jika karena beberapa alasan, Anda tidak melakukan kebiasaan Anda? Jangan lantas menyalahkan diri Anda sendiri. Analisa dan cari tahu mengapa hal itu sampai terjadi dan cari solusinya agar tidak terjadi lagi. Kemudian maju terus. Membentuk suatu kebiaaan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, namun jika Anda disiplin, Anda akan berhasil.

  9. Mencari inspirasi.

    Motivator terbaik adalah inspirasi. Ketika saya membentuk kebiasaan baru, saya suka membaca pengalaman-pengalaman sukses orang lain. Saya akan membaca buku, majalah, situs, dan blog dengan topik tersebut. Lakukanlah hal yang sama saat menulis — carilah inspirasi, tetapi jangan membiarkan kegiatan membaca tersebut menghambat Anda untuk menulis.

  10. Jadikan menulis sebagai kegiatan yang menyenangkan.

    Yang terpenting, jika kebiasaan itu tidak menyenangkan, Anda akan sering kehilangan motivasi. Mencoba disiplin memang penting, tapi pada akhirnya, motivasilah yang merupakan faktor pentingnya. Anda tidak dapat memaksa motivasi. Jadi, carilah cara untuk membuat kebiasaan menulis itu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Bisa dengan memutar musik atau menenggak secangkir kopi atau teh saat Anda menulis. Menulislah dengan ditemani sesuatu yang Anda sukai.

    Harmonisasi Wudhu’ dengan Kesehatan
    Harmonisasi Wudhu’ dengan Kesehatan
    Wudhu’ merupakan indikator salah satu syarat diterimanya ibadah seorang muslim. Perintah berwudhu’ yang dilakukan, baik sebelum shalat dan sebelum melakukan ibadah sunnah lainnya, seperti membaca al-Qur’an, bukanlah tanpa manfaat. Bahkan, doa yang dibaca usai berwudhu’ (allahummaj’alni min at-tawaabin waj’alni min al-mutathahhirin, waj’alni min ‘ibadika ash-shalihin) cukup nyata menunjukkan bahwa wudhu’ berperan untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohani.

    Buku : Sehat dengan Wudhu’

    Penulis : Syahruddin El-Fiki

    Penerbit : Al-Mawardi Prima, Jakarta

    Tahun Terbit : Mei, 2011

    Halaman : Viii + 124 hlm

    Dalam Islam, kesehatan adalah salah satu hal yang paling penting. Sebab, dengan modal kesehatan, seorang muslim dapat bekerja untuk menafkahi seluruh keluarganya. Dengan sehat pula, seorang Muslim dapat melaksanakan ibadah dengan baik dan lancar. Wudhu’ dijadikan Allah sebagai salah satu media yang berperan untuk menjaga kesehatan. Wudhu’ juga mampu merangsang dan menstimulus energy yang ada di dalam tubuh orang yang melakukannya. Seluruh peredaran darah di dalam tubuh akan menjadi lancar, bila berwudhu’ dengan cara yang benar.

    Buku yang berjudul “Sehat dengan Wudhu’” mengurai dengan detail bagaimana mekanisme wudhu’ mampu berperan menjaga kesehatan. Buku ini dibagi oleh Syafaruddin El-Fikri, penulis buku ini menjadi delapan bagian. Yaitu, Sehat dengan wudhu’, dari Akupuntu hingga SEFT, empat teori jadi satu, wudhu’ aktifkan titik-titik energi, syarat untuk membersihkan diri, hikmah dan manfaat wudhu’, wudhu’ batin, dan memelihara waktu.

    Dalam bab “Wudhu’ Aktifkan Titik-Titik Energi”, pembaca akan menemukan bahwa di dalam organ tubuh yang dibersihkan saat wudhu terdapat beberapa titik energi. Pengakuan titik energi tersebut diakui oleh para ahli kesehatan dan akupuntur. Membasuh wajah, misalnya. Para peniliti dan ahli akupuntur menyebutkan, titik-titik akupuntur di wajah yang menjadi area wudhu berjumlah 84 titik. Maka dengan membasuh wajah secara benar, efeknya akan sangat bermanfaat untuk kesehatan.

    Rasulullah SAW. telah cukup lama mengaklamasikan, “Kemilau cahaya seorang mukmin (kelak pada hari kiamat) sesuai dengan batas basuhan wudhu’nya”, maka menurut pakar kesehatan dengan membasuh muka saat berwudhu’ dengan sedikit pijatan, akan memberi efek positif pada usus, ginjal dan sistem syaraf maupun reproduksi. Sedangkan dari sisi kulit, akan membuat kulit wajah yang kencang, bersih dan membuat wajah bercahaya.

    Konkritnya, apa yang dibersihkan saat berwudhu’ memberikan efek yang baik bagi kesehatan. Tampak sekali adanya harmonisasi antara wudhu’ dengan kesehatan. Maka wajar, jika Hatim al-Asham mengajarkan selain wudhu’ lahir, kita harus melakukan juga wudhu’ bathin yang tujuh: senantiasa bertaubat kepada Allah atas segala dosa, menyesali segala dosa-dosa yang dikerjakan dan berjanji tak akan mengulanginya lagi, membersihkan diri dari cinta dunia, meng hindarkan diri dari segala pujian manusia, meninggalkan sifat bermegah-megahan, tidak berkhianat dan menipu, dan menjauhi perbuatan iri dan dengki. (Bab Wudhu’ Batin, hal. 107)

    Buku ini layak dibaca oleh segala kalangan, baik para praktisi kesehatan maupun masyarakat awam. Selain bahasa yang digunakan penulis cukup sederhana, juga mampu menumbuhkan semangat pembaca untuk melakukan penjagaan kesehatan yang murah dan memang diajarkan oleh agama. Karena setiap hari, kita wajib mengerjakan shalat lima waktu. Dengan wudhu yang benar dan sesuai aturan, artinya lima kali dalam sehari kita menjaga kesehatan sambil beribadah kepada Allah.

Advertisements
Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: